Monday, July 13, 2015

Pengertian Gamelan


Metalfone

 

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

Musik gamelan tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi dapat digunakan sebagai alat terapi. Gamelan dapat membantu tahap sebelum mencapai keadaan Samadhi Meditasi. Melalui media musik, orang dapat membuat pemurnian berpikir, pemurnian hati dan jiwa yang mengarah ke penyembuhan psikologis. 

Di Indonesia, tidak banyak orang memiliki alat musik gamelan sendiri sehingga sulit bagi mereka yang ingin memainkan alat musik tersebut ataupun melakukan analisa terhadapnya. Namun, di jaman modern ini perkembangan teknologi cukup pesat. Suara alat musik gamelan dapat direkam kemudian dilakukan analisa ataupun dimainkan. Alat musik gamelan dibuat secara manual menggunakan tangan. Pembuatnya mengatur tiap nada pada instrumen berdasarkan perasaan mereka sendiri. Akibatnya, frekuensi nada yang dihasilkan terkadang tidak standar. Yang dimaksudkan dengan tidak standar yaitu frekuensi dasar pada instrumen gamelan sedikit berbeda dari satu gamelan ke gamelan yang lain. Tabel 1 menunjukkan frekuensi dasar nada gamelan (saron) pada beberapa set gamelan. Masing – masing notasi memiliki rentang frekuensi yang berbeda. Dari Tabel 1, dapat disimpulkan bahwa frekuensi nada saron tidak standar.  Hal ini dipengaruhi oleh pembuatan gamelan yang dilakukan secara manual berdasarkan perasaan masing – masing pembuatnya. Kekerasan memukul gamelan, gaya memukul dan posisi sebelah mana yang dipukul juga mempengaruhi frekuensi pada gamelan. Sehingga frekuensi pada nada gamelan dapat berbeda satu sama lain. 

Frekuensi dasar nada saron dari beberapa set gamelan

Gamelan Notation (c)             Gamelan Frekuensi (Hz)

                                             Tuning 1       Tuning 2       Tuning 3       Tuning 4       Min       Max

            1                                  528                  528              504               539            504       539

            2                                  610                  610              574               610            574       610

            3                                  703                  703              688               703            688       703

            5                                  797                  792              792               799            792        799

            6                                  915                  922              926                926           915        926

 

Pada alat musik gamelan terdapat dua jenis tangga nada, yaitu slendro dan pelog. Nada slendro memiliki lima nada, sedangkan pada pelog memiliki tujuh nada. Frekuensi dasar tiap nada gamelan dapat dihitung menggunakan rumus perpindahan tangga nada. Akan tetapi pada kenyataannya banyak frekuensi dasar gamelan yang tidak sesuai dengan perhitungan, dikarenakan pembuatan gamelan yang manual. Untuk mendapatkan frekuensi dasar nada gamelan yang sesuai dengan perhitungan, perlu dilakukan pergeseran frekuensi terhadap nada gamelan. Metode yang dapat menangani masalah tersebut adalah pitch shifting. Pitch Shifting menggeser frekuensi dasar nada ke frekuensi dasar nada yang lebih tinggi maupun ke frekuensi dasar nada yang lebih rendah.

Alat musik gamelan memang sangat unik dan rumit, akan tetapi anda akan tertarik jika anda mau mencoba alat musik gamelan.

Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).

 

Bukti otentik pertama tentang keberadaan gamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Pada relief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan tarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

 

Gamelan yang berkembang di Jawa Tengah, sedikit berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut apabila dibandingkan dengan Gamelan Bali yang rancak serta Gamelan Sunda yang mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Menurut beberapa penelitian, perbedaan itu adalah akibat dari pengungkapan terhadap pandangan hidup “orang jawa” pada umumnya.

 

Pandangan yang dimaksud adalah : sebagai orang jawa harus selalu “memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak”. Oleh sebab itu, “orang jawa” selalu menghindari ekspresi yang meledak-ledak serta selalu berusaha mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud paling nyata dalam musik gamelan adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

 

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang sangat kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu “sléndro”, “pélog”, ”Degung” (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan “madenda” (juga dikenal sebagai diatonis), sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

·  Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu : 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.

·  Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu : 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.

Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yang terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.